Jumat, 03 Maret 2023

Dalam Menghadapi Kehidupan Era Digital Dan Al-Qur'an

 


Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an:
 
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (Al Baqarah:185)

Melalui Ayat Al-Qur’an, manusia dipandu bagaimana sejatinya menjalani hidup dan kehidupan di dunia. Al-Qur’an tidak hanya berisi persoalan aqidah (keyakinan), ibadah dan hukum semata, tetapi juga meliputi masalah sosial kemasyarakatan, ekonomi, sejarah dan ilmu pengetahuan.


Sebagai pegangan hidup, Al-Qur’an memberikan implikasi bahwa setiap muslim harus pula menghayati akan nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu kemudian menjadi kekuatan yang memotivasi dan mendasari kegiatan sehari-hari, dan menjadi alat perjuangan di bidang kemasyarakatan atau keilmuan, termasuk dalam era digital saat ini.


Era digital dewasa ini terbukti telah menjadikan manusia dan teknologi harus hidup berdampingan dan senantiasa berkolaborasi. Manusia dewasa ini sangat bergantung pada teknologi yang merupakan produk ciptaannya sendiri. Kominfo merilis bahwa pengguna Internet di Indonesia pada 2020 mencapai 175,5 juta jiwa. Hal ini mengalami kenaikan 25 juta atau 17% dibandingkan tahun sebelumnya pada 2019. Internet telah membentuk budaya baru kehidupan manusia, mulai dari model komunikasi, kegiatan ekonomi, transportasi, pendidikan, hingga keagamaan.

Baca Juga: Kumpulan Do'a

Era digital memang memberikan kemudahan bagi siapa saja. Tetapi era digital juga telah melahirkan berbagai konten informasi yang tidak benar dan begitu mudah memicu salah paham yang memicu kebencian antar kelompok. Dalam bidang keagamaan, era digital turut melahirkan gagasan keagamaan tertentu yang membentuk sebuah pemikiran yang tertanam dalam pemahaman masyarakat. Pengalaman keagamaan yang bersifat personal, fatwa-fatwa yang tak berdasar, serta pengetahuan yang tidak jelas sanadnya diciptakan sedemikian rupa  untuk  menggiring opini   masyarakat.


Otoritas keagamaan pun mengalami pergeseran, dari para ulama, ustaz, ormas keagamaan dan pemerintah melalui Kementerian Agama, beralih kepada media baru yang tampak impersonal dan berbasis pada jejaring informasi. Setiap orang dengan mudah mengakses pengetahuan menurut selera dan kebutuhan masing-masing.

Teknologi informasi dengan berbagai inovasi yang dilahirkannya sejatinya adalah sebatas alat untuk kehidupan saja, bukan tujuan. Teknologi informasi adalah salah satu alat mendekatkan diri kepada Allah dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalankan misi sebagai khalifatullah fil ardl, yaitu untuk mewujudkan kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam.


Karena itulah, pengelolaan teknologi informasi di era digital harus tetap disandarkan pada petunjuk Allah yang termaktub dalam al-Qur’an. Di antara petunjuk itu; pertama, kewajiban untuk melakukan tabayyun terhadap berbagai berita yang diterima (QS. Al-Hujurat: 6).

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. " (Al Hujurat:6)

Proses tabayyun dilakukan pada dua hal, yaitu si pembawa berita dan isi berita itu sendiri. Budaya tabayyun akan mampu menekan penyebaran berita bohong yang ada di masyarakat.


Kedua, larangan menghina, mencemooh dan mengakui adanya perbedaan (QS. Al-Hujurat: 11–13). 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. " (Al Hujurat:11)

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." (Al Hujurat:12)

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. " (Al Hujurat:13)

Setiap hal yang berbeda tidak boleh dijadikan alat untuk saling merendahkan dan mengklaim diri yang paling baik dan benar. Tidak boleh pula untuk memproduksi ghibah yang menggiring opini orang lain untuk menerima informasi bohong sebagai suatu kebenaran.


Dan ketiga, khusus dalam konteks ajaran agama, larangan mengikuti faham atau pemikiran tanpa ada pengetahuan atas faham atau pemikiran tersebut (QS. Al-Isra':36)

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Al Isra':36)


Perlu diketahui, bahwa yang didengar, dilihat dan dipilih oleh seseorang, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Kesukaan pada figur ustaz atau kelompok faham tertentu jangan sampai menghilangkan daya kritis dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran agama. Wallahu A’lam. 

Sabtu, 03 Agustus 2019

Risalah Ahlusunnah wal'jama'ah | Sunnah dan Bid'ah


Segala puji bagi Allah syukur atas
karunianya. Shalawat serta salam semoga tercurah
kepada junjungan kita baginda Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

Selanjutnya, pada article kali ini. Saya akan membagikan article yang insya Allah sangat menarik untuk dibaca dan dipahami...

Disini akan saya update secara berkala, berhubung articlenya lumayan panjang.

Pada article pertama ini, kita akan masuk pada pembahasan tentang:

Sunah dan Bid’ah

   Lafadz sunnah سُنَّةْ ‌ketika dibaca dlammah
huruf sin dan ditasydid huruf nunnya, sebagaimana
pendapat Abu al-Baqa dalam kitab “kuliyyat”,
secara bahasa adalah : suatu jalan walaupun tidak
diridlai. Dan secara syara’ adalah : jalan yang
diridlai (Allah) yang ditempuh dalam agama, yaitu
yang ditempuh oleh Rasulullah s.a.w. dan yang
lainya, yang faham terhadap agama, dari kalangan
para sahabat. Karena ada hadits Rasulullah s.a.w.

عَلَيْکُمْ بِسُنَّتِی وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِیْ

Artinya : "Hendaklah kalian berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ al-Rasyidin setelahku."

Dan secara urf (tradisi), sunah adalah :
suatu ajaran yang diikuti secara konsisten oleh para
pengikut, baik nabi maupun wali. Dan istilah sunny
adalah nisbat kepada sunnah. Bid’ah, sebagaimana pendapat syeikh Artinya : Hendaklah kalian berpegang pada sunahku dan sunah Khulafa’ al-Rasyidin setelahku.

Zaruq dalam kitab “Uddatul Murid”, secara syari’at
adalah memperbaharui perkara dalam agama yang
menyerupai ajaran agama itu sendiri, padahal
bukan bagian dari agama. Baik bentuk maupun
hakikatnya. Sebagaimana sabda Nabi s.a.w.

BACA JUGA: Kumpulan Do'a Dalam Al-Qur'an
Artinya : Barang siapa yang membuat-buat dalam agama kami ini (yang) bukan bagian daripadanya, 
maka hal tersebut ditolak. (HR. Bukhari, Muslim)

Dan juga sabda Nabi s.a.w.

Artinya : Dan setiap hal yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah. (HR. Nisa’i, Ibnu Majah).

Para ulama telah menjelaskan bahwa pengertian kedua hadits di atas adalah dikembalikan pada masalah hukum meyakini sesuatu (amalan) yang tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah, sebagai bisa mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. bukan mutlak semua pembaharuan (dalam agama).

BACA JUGA: Hadist Akhir Zaman

Karena mungkin saja pembaharuan tersebut terdapat landasan ushulnya dalam agama, atau terdapat contoh furui’yah-nya, maka diqiyaskanlah terhadapnya. Syeikh Zaruq berkata: sebagai pertimbangannya adalah tiga hal berikut.

1. Supaya diteliti perkara yang baru tersebut. Jika di dalamnya terdapat prinsip-prinsip syari’at dan ada landasan asalnya, maka bukanlah bid’ah. Jika berbagai aspeknya (hal baru tersebut) tidaklah demikian, maka hal tersebut adalah perkara bathil dan sesat. Dan jika hal baru tersebut terjadi kesamaran dalilnya, maka harus diteliti secara seksama lalu diberi status sesuai dengan unsur yang dominan di dalamnya.

2. Mempertimbangkan kaidah para imam dan ulama terdahulu dari Ahlussunah wal Jama’ah. Jika hal baru tersebut segala aspeknya bertentangan maka ditolak. Dan jika sesuai dengan landasan ushulnya, maka hal baru tersebut bisa diterima. Jika masih terjadi perselisihan antara mana yang ushul dan yang furu’, maka dikembalikan pada dalil ushul.
Ada kaidah bahwa :

Artinnya:
dipraktikkan oleh ulama’ salaf dan diikuti oleh ulama khalaf tidak bisa disebut bid’ah dan tidak bisa dikatakan terela. Dan setiap sesuatu yang ditinggalkan oleh mereka dari berbagai jalan yang jelas, tidak bisa disebut sunah dan tidak bisa dikatakan terpuji. 

Dan setiap suatu ajaran yang hukumnya ditetapkan oleh ulama’ salaf akan tetapi tidak pernah mereka praktikkan, maka menurut Imam Malik : adalah bid’ah. Karena mereka tidak meninggalkan sesuatu kecuali adalah permasalahan mengenai (amalan tersebut). Menurut Imam Syafi’i tidak termasuk bid’ah walaupun tidak dipraktikkan para ulama’ salaf. Karena mungkin saja mereka tidak mempraktikkannya karena ada suatu udzur atau karena mereka mengamalkan sesuatu yang lebih afdzal. Para ulama juga berbeda pendapat tentang amalan yang tidak ada dalil sunahnya, akan tetapi tidak ada tasyabuh di dalamnya. Maka Imam Malik berkata : adalah bid’ah. Dan menurut Imam Syafi’i tidak termasuk
bid’ah, dengan bersandar pada Hadits

Artinya : Apa yang Aku tinggalkan pada kalian (tanpa penjelasan), maka hal tersebut sesuatu yang dimaafkan.

Syeikh Zaruq berkata : berdasarkan prinsip inilah para ulama berbeda pendapat. (misalnya) dalam masalah membuat kalangan (dzikir), dzikir dengan suara keras, (dzikir) berjamaah, dan berdoa. Karena ada beberapa hadits yang menganjurkannya, tetapi tidak dipraktikkan oleh ulama’ salaf. Lalu, setiap orang yang menyetujui (perbuatan-perbuatan tersebut) tidak bisa dikatakan bid’ah bagi penentangnya. Sebab hal itu adalah hasil ijtihad. Setiap orang tidak bisa mengatakan bathil bagi orang yang tidak mengikuti praktik-praktiknya. Sebab kalau tidak, maka semua umat ini akan saling membid’ahkan (satu dengan yang lain). Telah kita ketahui bahwa hukum Allah yang dihasilkan dari ijtihad furu’iyah adalah sama benarnya. Sedangkan
Rasulullah bersabda :

Artinya : Janganlah ada seorangpun yang shalat ashar kecuali di Bani Quraidlah. (HR. Bukhari)

Dan ternyata telah datang waktu ashar ketika mereka di tengah perjalanan. Maka sebagian sahabat berkata, Rasulullah memerintah kita untuk bergegas dan mereka shalat di jalan. Dan sebaian yang lain berkata, Rasulullah memerintah kita untuk menunaikan shalat di tempat (Bani Quraidlah) sebagai mana bunyi hadist tersebut. Lalu mereka mengakhirkan shalat ashar. Dan ternyata Rasulullah tidak mencela seorangpun di antara mereka.

Hadits di atas menunjukkan atas sahnya beribadah atas dasar tingkat pemahamannya masing-masing. Selama
tidak atas dorongan hawa nafsu.

3. Hendaklah setiap perbuatan ditakar dengan pertimbangan hukum.

Yang perinciannya ada enam, yaitu wajib, sunah, haram, makruh, khilaf aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu kategori hukum di atas, berarti bisa diidentifikasi
dengan status hukum tersebut, sementara yang tidak bisa maka dianggap bid’ah. Dan banyak ulama’ yang menggunakan metode penetapan hukum menggunakan takaran ini. Wallahu a’lam. Syeikh Zaruq berkata bahwa bid’ah dibagi menjadi tiga macam :

1. Bid’ah Sharihah
Yaitu setiap suatu amalan yang ditetapkan tanpa landasan syar’i baik dari aspek wajib, sunah, mubah, dan lainnya. Dan hal ini bisa memadamkan sunah dan membathilkan yang haq. Ini adalah seburuk-buruk bid’ah walaupun misalnya, disandarkan kepada seribu dalil ushul dan furu’, maka, hal ini tidak menjadi pertimbagan sama sekali.

2. Bid’ah Idhafi
Bid’ah yang disandarkan pada praktik tertentu walaupun terbebas dari unsur bid’ah, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut tergolong sunah atau bukan bid’ah.

3. Bid’ah Khilafi
Yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Jika dilihat dari satu aspek tergolong bid’ah, tetapi dari aspek yang lain tergolong kelompok sunah. Sebagaimana contoh dalam hal ini membuat kalangan dzikir dan dzikir berjamaah.
Berkata al-Alamah waliyudin al-Syabsyiri dalam “Syarah al-Arba’in al-Nawawi”, menjelaskan atas hadits Nabi s.a.w.

Artinya : Barang siapa menciptakan perkara baru (dalam agama) atau membantu orang lain menciptakan hal baru, maka dia mendapatkan laknat Allah. (HR. Bukhari)

Yang termasuk dalam kategori hadits tersebut di atas adalah akad fasid, berhukum kepada orang bodoh dan dzalim dan setiap sesuatu yang tidak mencocoki syara’. Dan tidak termasuk dalam kategori di atas adalah pembaharuan yang tidak keluar dari dalil syara’, sebagaimana masalah ijtihadiyah, di mana korelasinya dengan dalil syara’ adalah dzan. Begitu juga menulis mushaf, merumuskan madzhab-madzhab, menulis Ilmu Nahwu dan hisab. Oleh karena itu Syeikh Ibnu Abdussalam membagi bid’ah menjadi lima
kategori:

1. Bid’ah yang wajib
Seperti belajar Ilmu Nahwu, belajar ilmu Ghorib al-Qur’an dan sunah yang bisa membantu pemahaman agama.

2. Bid’ah yang Haram
Seperti Madzhab Qadariyah, Jabariyah, dan Mujasimah.

3. Bid’ah yang Sunah
Seperti membangun pesantren dan madrasah dan tiap-tiap hal baik yang belum pernah ada di masa generasi awal.

4. Bid’ah yang Makruh
Menghiasi masjid secara berlebihan dan menyobek-nyobek mushaf.

5. Bid’ah yang Mubah
Seperti berjabat tangan setelah shalat,dan melonggarkan baju, dan lain-lain. Begitu juga menggunakan alat tasbih, melafadzkan niat shalat, tahlil bagi mayit, ziarah kubur dan lain-lain bukan termasuk bid’ah. Sedangkan pertunjukan pasar malam dan sepak bola adalah sejelek-jelek bid’ah.

Sekian article kali ini semoga bermanfaat

Jumat, 02 Agustus 2019

Hadist Akhir Zaman


Sudah lebih dari 1400 tahun kita ditinggalkan oleh junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Alhamdulillah sampai hari ini kita masih dapat merasakan nikmat Iman dan Islam yang merupakan buah dari usaha dan kegigihan yang tak pernah berhenti dalam memikul tugas yang telah diwariskan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Para sahabat, tabi'in dan para ulama silih berganti memikul tugas sebagai "pewaris Nabi"

Mereka senantiasa aktif dalam tugas dan tidak mengenal batas akhir di dalam perjuangan. Dengan semangat inilah Islam sampai ke negara kita dan hingga hari ini umat Islam merupakan seperlima dari penduduk dunia. 

Walaupun dari zaman ke zaman umat Islam sering ditimpa malapetaka dan menghadapi beraneka ragam ujian, namun dengan limpahan karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala umat Islam masih wujud dan masih mempunyai nilai-nilai agama dalam kehidupan, 
walaupun kita mengakui adanya kekurangan di sana sini. 

Al-Qur'an dan Hadits adalah pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya. Mereka tidak akan sesat dan lenyap dari permukaan bumi ini selama masih berpegang teguh kepada keduanya.

Al-Qur'an dan Hadits adalah pegangan yang tidak luntur dan sumber segala kekuatan serta keterangan yang lengkap dan jelas tentang identitas Islam itu sendiri. Sebenamya, segala masalah yang dihadapi oleh Umat Islam sepanjang zaman, baik yang telah lalu, sedang dan akan datang, semuanya telah diterangkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak ada satu pun yang tertinggal. Semuanya diterangkan dan dijelaskan tentang cara-cara untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Dalam hal ini, termasuk masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam di akhir zaman, sejak 1400 tahun yang lalu telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, untuk menjadi pedoman kepada umatnya supaya mereka dapat menjaga diri, waspada dan tetap berada dalam ajaran yang murni serta terhindar dari segala kerusakan dan bahaya kesesatan. 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya seperti berikut:

Dari Abu Zaid, yaitu Amr bin Akhthab al-Anshari Ra., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat Subuh berjamaah dengan kami, kemudian beliau naik ke mimbar dan berkhutbah sampai mas uk waktu Zuhur, kemudian beliau turun (darimimbar) dan shalat Zuhur (bersama kami). 

Setelah selesai shalat Zuhur beliau naik lagi ke mimbar dan menyambung khutbahnya sampai masuk waktu Ashar, maka beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar (bersama kami). Setelah selesai shalat Ashar beliau naik lagi ke mimbar dan melanjutkan khutbahnya sehingga tenggelam matahari. Beliau memberitahu kepada kami 
segala apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Maka siapa yang pandai di kalangan kami, dialah yang paling banyak menghafalnya." (H.R. Muslim)

Di dalam khutbah yang panjang itu, Baginda Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan makhluk dari permulaan penciptaannya hingga akhir zaman dan perkara-perkara yang berkaitan dengan alam barzakh dan hari qiamat. Berkata Huzaifah bin al-
Yaman: "Terkadang aku lihat sesuatu yang telah aku lupakan, maka kembali ingatanku kepada khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka aku ingat kembali, seperti keadaan salah seorang kamu yang mengenal kembali sahabat yang telah lama hilang dari ingatannya bila ia bertemu kembali dengannya".

Hadits Pertama:

JANGAN MUDAH MENYALAHKAN ORANG LAIN:

Dari AbuHurairah Ra., bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ada seseorang berkata, "orang banyak (sekarang ini) sudah rusak, maka orang yang berkata itu sendiri 
yang paling rusak di antara mereka." (HR. Muslim) 

Keterangan:

Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadhus-Shalihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: "Larangan semacam di atas itu (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak rusak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia daripada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram. Adapun orang yang berkata seperti ini karena ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka, dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.

Hadits Kedua:

MENGAPA DUNIA ISLAM MENJADI SASARAN PEMUSNAHAN:

Dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), beliau berkata: "(Pada suatu hari) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cemas sambil bersabda, "La ilaha illallah, celaka (binasa) bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah 
terbuka bagian dinding Ya'juj dan Ma'juj seperti ini", dan Baginda menemukan ujung ibu jari dengan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, Ya Rasulullah! Apakah kami akqn binasa, sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang yang shaleh?" Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Keterangan:

Hadits di atas menerangkan, apabila di suatu tempat atau daerah sudah terlalu banyak kejahatan, kemungkaran dan kefasiqan, maka kebinasaan akan menimpa semua orang yang berada di tempat itu. Tidak hanya kepada orang jahat saja, tetapi orang-orang shaleh juga akan dibinasakan, walaupun masing-masing pada hari qiamat akan diperhitungkan menurut amalan 
yang telah dilakukan. 

Oleh karena itu segala bentuk kemungkaran dan kefasiqan hendaklah segera dibasmi, dan segala kemaksiatan hendaklah segera dimusnahkan, supaya tidak terjadi malapetaka yang bukan saja akan menirnpa orang-orang yang melakukan kernungkaran dan kejahatan tersebut, tetapi juga menimpa semua penduduk yang berada di tempat itu. 

Dalam hadits di atas walaupun disebutkan secara khusus tentang bangsa Arab tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Tujuan disebutkan bangsa Arab secara khusus karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri dari kalangan mereka, dan yang menerima Islam pada waktu pennulaan pengembangannya adalah kebanyakan dari kalangan bangsa Arab dan sedikit derni sedikit dari bangsa lain. Begitu pula halnya dalam masalah yang berkaitan dengan perkembangan umat Islam banyak bergantung kepada maju-mundurnya bangsa Arab itu sendiri. Selain itu, bahasa resmi Islam adalah bahasa Arab. Kemudian Ya'juj dan MaJuj adalah dua bangsa (dari keturunan Nabi Adam As.) yang dahulunya banyak mernbuat kerusakan di permukaan bumi, lalu batas daerah dan kediaman mereka ditutup oleh Zul Qarnain dan pengikut-pengikutnya dengan campuran besi dan tembaga, maka dengan itu mereka tidak dapat keluar, sehingga hampir tiba hari qiamat. Maka pada waktu itu dinding yang kuat tadi akan hancur dan keluarlah kedua bangsa itu dari kediaman mereka. lalu kembali membuat kerusakan di permukaan bumi. Apabila peristiwa ini 
telah terjadi, itulah tanda hari qiamat sudah dekat.

Hadits Ketiga:

SELURUH DUNIA DATANG MENGERUMUNI DUNIA ISLAM:

Dari Tsauban Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; "Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka". Maka salah seorang sahabat bertanya, "Apakah karena kami sedikit pada hari itu?" Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, "Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit 'wahan'
Seorang sahabat bertanya: "Apakah 'wahan' itu, hai Rasulullah?". Rasulullah menjawab: "Cinta dunia dan takut mati". (HR. Abu Daud) 

Keterangan:

Memang benar apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut. Keadaan umat Islam pada hari ini, menggambarkan kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umat Islam walaupun mereka dalam jumlahnya banyak, yaitu 1000 juta 1/5 penduduk dunia), tetapi mereka sering menjadi tuduhan negatif dan menjadi 
alat permainan bangsa-bangsa lain. Mereka ditindas, diinjak-injak, dibantai dan sebagainya. 

Bangsa-bangsa dari seluruh dunia walaupun berbeda agama, mereka bersatu untuk melawan dan melumpuhkan kekuatan umat Islam. Sebenarnya, sebab kekalahan kaumMuslimin adalah dari dalam diri kaum Muslimin itu sendiri, yaitu adanya penyakit "wahan" yang merupakan penyakit campuran dari dua unsur yang 
sering wujud dalam bentuk kembar dua, yaitu "cinta dunia" dan "takut mati". Kedua penyakit ini tidak dapat dipisahkan. "Cinta dunia" bermakna tamak, rakus, bakhil dan tidak mau menyumbangkan harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala "Takut mati" bermakna senang dengan kehidupan dunia dan tidak membuat persediaan untuk menghadapi negeri akhirat dan tidak 
ada perasaan untuk berkorban dengan diri dan jiwa dalam memperjuangkan agama Allah 
Subhanahu wa Ta’ala. Kita berdoa semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, menurunkan pertolongan (nushrah)Nya kepada kaum muslimin dan memberikan kepada mereka kemenangan di dunia dan di akhirat.

Hadits Keempat:

ILMU AGAMA AKAN BERANGSUR-ANGSUR HILANG:

Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash Ra. ia berkata: Aku mendengar Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,' "Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mencabut (menghilangkan) ilmu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala 
menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang jahil sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain." (HR. Muslim) 

Keterangan:

Sekarang ini para ulama sudah berkurang. Satu demi satu pergi meninggalkan kita. Kalau peribahasa kita mengatakan, "patah tumbuh, hilang berganti", namun sangat sayang peribahasa ini tidak tepat berlaku kepada para ulama. Mereka patah lambat tumbuh, dan mereka hilang lambat berganti. Sampailah suatu waktu nanti permukaan bumi ini akan kosong dari Ulama. Pada waktu itu sudah tidak berarti lagi kehidupan di dunia ini. Alam penuh dengan kesesatan. Manusia telah kehilangan nilai dan pegangan hidup. Sebenarnya, para ulamalah yang memberikan makna dan arti pada kehidupan manusia di permukaan bumi ini. Maka apabila telah habis para ulama, hilanglah segala sesuatu yang bemilai. Akhir-akhir ini kita telah melihat gejala zaman yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tadi. Yakni bilangan para ulama hanya tinggal sedikit dan usaha untuk melahirkannya tidak mendapat perhatian yang sewajamya. Pondok-pondok pesantren dan madrasah-madrasah kurang mendapat perhatian dari cendekiawan. Mereka lebih mengutamakan pelajaran di bidang keduniaan yang dapat meraih keuntungan harta benda dunia. Inilah realitas masyarakat kita hari ini. Oleh sebab itu, perlulah kita memikirkan hal ini dan mencari jalan untuk menyelesaikannya. 

Hadits Kelima:

UMAT ISLAM IKUT JEJAK LANGKAH YAHUDI DAN NASHRANI:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lobang biawakpun kamu akan mengikuti mereka". Sahabat bertanya. "Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang Tuan maksudkan?" Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, "Siapa lagi?" (kalau bukan mereka). (HR. Muslim) 

Keterangan:

Umat Islam akan mengikuti jejak langkah atau "cara hidup" orang-orang Yahudi dan Nashrani, hingga dalam urusan yang kecil dan yang remeh sekalipun. Contohnya, jikalau orang Yahudi dan Nashrani masuk ke lobang biawak yang kotor dan sempit sekali pun, orang Islam 
akan terus mengikuti mereka. Pada zaman sekarang, kita dapat melihat kenyataan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini. Banyak orang Islam yang kehilangan pegangan di dalam kehidupan. Mereka banyak meniru "cara hidup" Yahudi dan Nashrani, baik disadari ataupun tidak. Ban'yak orang Islam yang 
telah terperangkap dalam tipu muslihat Yahudi dan Nashrani dan ada pula yang sekaligus menjadi alat untuk kepentingan mereka. Ya Allah! Selamatkan kami dari mereka.

Jika penasaran dengan 40 kumpulan hadist akhir zaman, silahkan DOWNLOAD EBOOK 40 HADIST AKHIR ZAMAN. Namun sebaiknya bagi pengguna Android, alangkah baiknya download dulu aplikasi yang dapat digunakan untuk membuka file dalam bentuk atau format PDF. Download Aplikasi Pembuka File PDF DISINI

Do'a Dalam Al-Qur'an Bagian 2


Assalamu'alaikumuwarohmatullahi wabarokatuh...

Pada article sebelumnya saya telah meng-update 5 do'a dalam Al-Qur'an, jadi pada kesempatan kali ini.

Saya akan update kelanjutan dari article tersebut yaitu 6-10 do'a yang ada di dalam Al-Qur'an:

6. Doa Kekuatan Iman

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "Ya Tuhan, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami, dan selamatkanlah kami dan siksa neraka:" (QS. Âli 'Imrân: 16).

Penjelasan:
Dikisahkan dalam Al-Quran, bahwa doa ini dibaca oleh orang bertaqwa yang rajin melaksankan perintah Allah Swt., sehingga ia lupa pada kesenangan dunia.
Baik sekali doa ini dibaca juga untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

7. Husnul Khâtimah (akhir yang baik)

....رَبَّنا إِنَّنا سَمِعْنا مُنادِياً يُنادِي لِلْإِيمانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنا فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئاتِنا وَتَوَفَّنا مَعَ الْأَبْرارِ.
رَبَّنا وَآتِنا مَا وَعَدْتَنا عَلى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنا يَوْمَ الْقِيامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعادَ.
Artinya: "Ya Tuhan sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada iman: "Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ya Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan pernah menyalahi janji." (QS. Âli Imrân: 193-194).

Penjelasan:

Baik sekali doa di atas dibaca pada setiap kesempatan, tapi lebih utama pada waktu tengah malam (sepertiga malam) sampai menjelang shubuh. Karena ayat ini pula yang dibaca Nabi Saw. ketika bangun dari tidurnya sambil memandang langit. Demikian peielasan Al-Bukhârî dari Ibnu 'Abbâs.

8. Doa Penyesalan

....رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: "Ya Tuhan, kami telah menganiaya dm kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami
termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'râf 23).

Penjelasan :

Doa ini merupakan doanya Nabi Adam a.s. dan isterinya Hawa, ketika keduanya terlanjur memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah Swt., sehingga mereka berdua dikeluarkan dari surga. Karena penyesalannya atas melanggar larangan Allah Swt., maka mereka berdoa agar diampuni dosanya. Lebih detailnya tentang Adam dan Hawa dapat dilihat dalam Al-Quran surah Al-A'râf ayat 11-25.

9. Doa Tolak Neraka

...رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: "Ya Tuhan, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama dengan orang-orang zhalim." (Al-A'râf 47).

Penjelasan:

Doa dia atas dibaca oleh Ahl al-A'râf, yakni orang-orang yang amal kebajikan dan kejahatannya seimbang. Ketika mereka melihat ahli surga dengan berbagain kenikmatanya, mereka berkata: "Kesejahteraan semoga tercurah buat kalian, wahai ahli surga." Dan ketika mereka melihat ahli neraka dengan berbagai siksanya, mereka berkata: "Kami berlindung kepada Allah dari apa yang sedang kalian alami, Wahai ahli neraka." Lalu mereka berdoa dengan doa diatas, yaitu memohon agar tidak disatukan dengan orang-orang zhalim.

10. Doa Mohon Keadilan

....رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
Artinya: "Ya Tuhan, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq (adil). Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." (QS. Al-A'râf 89).

Penjelasan:

Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa doa ini dibaca oleh Nabi Syu'aib a.s. ketika beliau diusir oleh kaumnya lantaran inkar terhadap agama yang dibawanya
dan menolak ajakan kaumnya untuk kembali kepada ajaran agama merekaketika itulah Nabi Syu'aib a.s. memohon kepada Allah agar diberi keadilan antara agama Allah dan agama kaumnya. Lebih detailnya kisah Nabi Syu'aib ini bisa dilihat dalam Surah Al-A'râf ayat 89-91, dan tafsir Kurtubi Juz,
VII, hal.251.

Sekian dan semoga bermanfaat untuk kita semua, jangan lupa tetap meninggalkan saran dan masukan buat saya, agar kedepannya bisa lebih baik lagi dalam menyajikan article atau kontent yang sesuai.

Article sebelumnya DISINI

Terimakasih sudah berkunjung...

Baca juga: ARTICLE TENTANG CARA MENGAKSES WEBSITE jika minat untuk membacanya..
Kunjungi juga: CHANEL YOUTUBE saya...

Kumpulan Do'a Dalam Al-Qur'an




Doa-doa Dalam Al-Qur'an:

Assalamu'alaikumuwarohmatullahi wabarokatuh...

Salam sejahtera buat kita semua, semog Allah SWT selalu senantiasa memudahkan urusan kita.

Al-Qur'an sebagai kalam Allah dan pedoman hidup bagi setiap muslim, 
mengandung banyak doa-doa. Sebagian doa-doa tersebut adalah:

1. Doa Pembangunan

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Ya Tuhan, terimalah kebaktian kami. Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu, dan jadikanlah pula anak turunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sungguh 
Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang!." (QS. Al-Baqarah: 
127-128).

Penjelasan:

Doa ini baik sekali dibaca setelah selesainya membangun rumah, mesjid, 
pesantren, madrasah dan pembangunan yang lain. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa Nabi Ibrahim a.s. membaca doa ini setelah selesai membangun Baitul Haram (Kabah). Yang pada waktu itu ditimpa banjir besar (zaman Nabi Nuh as), kemudian Nabi Ibrahim dibantu puteranya Ismail as membangun kembali ka'bah tersebut. Setelah selesai mereka berdua 
mengangkat tangan seraya berdoa dengan lafazh doa di atas.

2. Doa Sapujagat

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Penjelasan:

Dalarn Al-Quran dijelaskan bahwa doa ini dibaca oleh orang-orang muslim yang tulus setelah selesai melaksanakan haji. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan pula bahwa doa ini mengandung seluruh kebaikan di dunia dan akhirat serta menghindarkan dari segala kejelekan. Oleh karena baik sekali doa ini dibaca pada setiap kesempatan.

3. Doa Tabah Menghadapi Lawan

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: "Ya Tuhan, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah 
pendirian kami, serta tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250).

Penjelasan:

Dijelaskan dalam Al-Quran, bahwa doa ini dibaca oleh sekelompok mukmin yang bergabung dengan pasukan Thalut melawan jalut. Sehingga dengan doa 
tersebut dan izin Allah Swt. pasukan Thalut dapat mengalahkan Jalut, dan Dâud membunuh Jalut.

4. Doa Keselamatan:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: "Ya Tuhan, janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya Tuhan, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan orang-
orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286).

Penjelasan:

Ibnu Katsir dalarn kitab tafsirnya merangkum sepuluh hadis tentang 
keutamaan membaca doa diatas. Diantaranya hadis yang diriwayatkan dari 
sahabat 'Abdullah bin Mas'ûd, bahwa Nabi Saw. telah bersabda: "Barangsiapa yang membaca dua ayat yang akhir surah Al-Baqarah (ayat 285-286) setiap malam, maka dia akan mendapatkan keselamatan." (Tafsir Ibnu Katsîr Juz, I, hal.340).

5. Doa Menghindari Kesesatan

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: "Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada 
kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah 
kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi karunia." (QS. Âli 'Imrân: 8).

Penjelasan:

Dalam Al-Quran dijelaskan, baliwa doa ini dibaca oleh orang-orang ahli ilmu yang beriman kepada keagungan Al-Quran. Dan mereka berdoa kepada Allah Swt. agar tetap ada dalam jalan kebenaran, hatinya tidak condong kepada kesesatan setelah mendapatkan petunjuk, serta memohon curahan rahmat-Nya.

Sekian 5 do'a yang ada dalam Al-Qur'an yang dapat kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga bermanfaat buat kita semua. Amiin ya robbal'alamiin....

Baca juga tentang Article seputar IT disini

Sampai jumpa di do'a-do'a berikutnya. Dan tak lupa juga kami, ucapkan terimakasih sudah berkunjung dan membaca article do'a-do'a dalam Al-Qur'an.

Saran dan masukan mohon di tinggalkan di kolom komentar...

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir dan Kumpulan Do'a Dalam Al-Qur'an